Sabtu, 01 Oktober 2011

Hikmah Dibalik Musibah


Suatu keadaan di sekolah,ada murid-murid yang bermain,ada yang sedang membaca buku dan ada pula yang sedang duduk-duduk dikoridor sekolah sambil bersendau gurau bersama.
Diwaktu bersamaan, terlihat sekelompok geng yang sedang berjalan di koridor sekolah sambil bercanda dan tertawa-tawa. Geng ini terkenal dengan cantiknya, pintarnya,dan kayanya.
Tapi karena wataknya yang sombong anak-anak digeng ini sering desegani oleh teman-temannya.
(kring…kring…kring….)bel pun berbunyi. Anak-anak mulai memasuki kelasnya masing-masing.
Para de’Vhelsis pun masuk kedalam kelas. Mereka adalah geng yang cukup di takuti satu sekolah. Bahkan, gurupun takut terhadap mereka.
“awas deh gak liat apa gue bertiga mau lewat”. Ujar Sisca dengan muka sombongnya.
“Abel!!!!! Lelet banget sih! Cepet sedikit dong….”. Sambung Dyra kesal
“Abel!!!!!!!!!!!!!!!!” Mella, leader mereka pun mulai berteriak kesal.
“iya iya maaf…”. Tiba cepat dibelakang de’Vhielsis dan tidak sengaja manabrak Mella. (panik)
Kerana kesalnya, Mellapun berbalik kearah Abel dan segera mengangkat dagu Abel sambil berkata “Abel sayang, lain kali kalau jalan itu YANG CEPET!!!!”.
Abelpun tergejut dan segera membereskan kembali buku dan peralatannya yang jatuh.
“Rapihin cepet!! Terus taro di meja gue, Mella, dan Sisca!”. ketus Dyra
            Merekapun segera berjalan menuju bangku mereka masing-masing.
 “makin sok banget sih”. Bisik Chika
            Tidak disangka salah satu dari de’Vhielsis tersebut mendengar perkataan Chika yang menjelekkan mereka.
“Woy! Maksud lo apa ngomong kaya gitu? Gak suka lo sama gue bertiga? Ngomong depan gue sekarang! Jangan cuma bisanya dibelakang doang!”. Marah Dyra kepada Chika sambil menunjuk kearahnya.
“bikin ulah apalagi dia?”. Ujar Mella dengan muka juteknya.
            Belum sempat Dyra menjawab, tiba – tiba bu Tia Wali Kelas mereka masuk kedalam kelas dan mereka semuapun segera duduk dibangkunya masing – masing.
“Selamat pagi anak-anak”. Sapa Bu Tia kepada murid-muridnya.
“Pagi bu…..!”. Jawab semua murid serentak
“Anak-anak ibu minta perhatiannya sebentar. Ibu akan memperkenalkan teman baru untuk kalian”. Ujar Bu Tia kepada semua murid.

            Semua murid sangat penasaran dengan murid baru tersebut. Banyak pertanyaan yang terlontarkan saat bu Tia berkata ingin memperkenalkan teman baru.
 “Semoga anak barunya gak nyebelin dan sok penguasa deh ya. Amin!!!”. Sindirnya kearah Mella, Dyra dan Sisca.
“Eh wonderchiken! Maksud lo apa ngomong kaya gitu! Kenapa? Sirik lo sama gue?”. Balas Mella dengan kesalnya.
Bu Tia pun segara mempertengahkan pertengkaran mereka. Dan kemudian mempersilahkan murid baru tersebut memasuki kelas.  
            Mikha, nama dari murid baru tersebut. Berwajah cantik, berkulit putih, dan tinggi. Mikhapun segera memperkenalkan dirinya.
“hai semuanya. Nama saya Mikha. Pindahan dari SMA 3 Bandung. Senang berkenalan dengan kalian”. Ujar Mikha.
            Semua muridpun terdiam dan mendengarkan perkataan Mikha.
“Mikha, kamu duduk disamping Dyra aja ya. Disana masih kosong kok”. Ujar bu Tia
            Mendengar hal itu, mereka para De’Vhielsis terkejut dan sangat tidak menyetujui kebijakan dari Bu Tia.
“wah bu, kenapa harus disamping saya? Di tempat lain kan bisa”. Keluh Dyra dengan muka kesal.
“Maksud ibu apa sih minta anak ini duduk disini! Ibu gak punya hak ya buat ngatur saya!” Bentak Mella kearah bu Tia.
“tau nih ibu gimana sih. Disini itu gak boleh ada yang nempatin selain atas keinginan kita!” sambung Sisca.
            Bu Tia pun terdiam dan bingung apa yang harus ia katakan. Dan setelah beberapa saat, bu Tia pun mulai berkata.
“kalian kan menguasai pelajaran jadi ibu berharap kalian khususnya kamu Dyra, kamu bisa membimbing Mikha yang sudah ketinggalan pelajaran”.
            De’Vhielsispun menjadi lebih kesal dan sangat marah. Disisi lain, Mikhapun segera duduk disebelah Dyra.  Mikha tersenyum kearah Dyra, Mella, dan Sisca tetapi senyum manisnya tidak dihiraukan oleh mereka bertiga melainkan mereka hanya memandang ketus kearahnya.
“gak usah sok manis deh didepan gue! Muka abstrak lo gak bakal bisa bikin gue berubah pikiran buat nerima lo disini!” ketus Mella kearah Mikha
            Waktu cepat berlalu, bel istirahatpun berbunyi (kring… kring….)
“Abel!! Cepet kisini deh!” teriak Mella

            Mendengar hal itu, Abelpun segera cepat menghampiri Mella. Dengan perasaan bingung dan ketakutan, Abel pun berkata “iya kenapa Mel??”.
Dengan ketus Mella berkata “tugas presentasi kemarin udah lo selesain belum?”.
Abel hanya terdiam, bingung apa yang harus ia katakana.
“emm… udah kok Mell, tapi…
“tapi apa bel?” ujar Dyra.
“tapi apaan!”
“maaf Mell, masih ada yang belum gue ketik. Gak sempet kemaren – kemaren soalnya gue kan juga harus ngelesain tugas kalian” Abelpun akhirnya menjawab.
Mella, Dyra, dan Siscapun marah. Mereka berfikir Abel menyalahkan mereka. Abel pun hanya dapat terdiam hanya matanya yang berkaca-kaca menunjukkan perasaan hatinya. Semua murid yang melihat kejadian itu hanya dapat terdiam. Tetapi Mikha menoleh kebelakang kearah Mella dengan tatapan bingungnya. Melihat keadaan Abel, Mikha pun terbangun dari tempat duduknya dan segera menghampiri Abel.
            Melihat Mikha yang tiba-tiba menghampiri Abel, Mella, Dyra dan sisca pun semakin marah. Sisca dan Dyra segera bertindak. Mereka mendorong dan memaki-maki Mikha hingga Mikhapun terjatuh. Tidak disangka Mella menjulurkan tangannya kearah Mikha. Sisca dan Dyrapun terdiam bingung melihatnya. Mikhapun tersenyum dan segera cepat meraih tangan Mella.
            Tetapi, belumsempat Mikha berdiri, Mella dengan cepat melepaskan pegangan nya hingga akhirnya Mikhapun terjatuh kembali. Para de’Vhielsis pun tertawa dan memberikan Mikha peringatan. Setelah itu, mereka dan Abelpun pergi. Meninggalkan Mikha sendiri.
            Setelah mereka pergi, tiba-tiba Nina, Tyas, Rasty dan Irra pun segera menghampiri Mikha. Mereka
Berkenalan dan dengan cepat merekapun menjadi sangat akrab. Mereka tertawa dan bercanda bersama. Ketika mereka sedang asik tertawa bersama, tiba-tiba de’Vhielsis datang. mereka semua tertuntuk dan diam seakan takut.
 “eh kok kalian pada diem sih. Kenapa? Loh ko pada pergi sih???”. Tanya Mikha kepada Nina, Rasti, Tyas, dan Irra.
            Tak ada jawaban. Mereka hanya merunduk terdiam dan segera dengan cepat bergegas pergi meninggalkan Mikha sendiri. Sementara itu, Mella, Dyra, dan Sisca berjalan kearah kearah Mikha.
“lo mau tau kenapa mereka diem?. Mereka diem karena takut”. Ucap Mella sinis.
“apa yang mereka takutin? Temen-temen kalian kenapa sih?”.
            Para de’Vhielsis pun pergi kembali. Tyas, Nina, Irra dan Rasty pun datang kembali. Mereka menjelaskan alasan kenapa satu sekolah ini termaksud para gurupun takut dengan de’Vhielsis itu.
“ih mereka tuh de’Vhielsis. Geng para cewe popular dan paling terpandang disini”. ucap Rasty
“iya, contohnya si Sisca, orangtuanya tajir, dia ikut ekskul Jurnalistik dan orangtuanya dia yang biayain semua keperluan Tim Jurnalistiknya”. Sambung Nina
“terus, terus si Dira. Dira itu bintang basket. Dira juga yang ngebantuin ekskul basket sekolah kita pas waktu dalam keadaan belum sekeren kaya sekarang. Dira yang ngebiayain semua keperluan Tim Basket sampe sekarang Tim Basket sekolah kita jadi keren gini”. Balas Irra
“ah mereka berdua mah belum ada apapanya. Mella, anak dari penyumbang dana buat sekolah ini yang terbesar. Yang kasih beasiswa dan ngebiayain keperluan sekolah ini kan orangtuanya. Wajar semua anak takut sama dia. Bahkan gurupun gakpernah kasar sama Mella”. Ujar Tyas
“oh gitu.”. ujar Mikha yg terlihat binggung
            Waktupun cepat berlalu hingga haripun berganti. Satu bulan sudah Mikha genap menjadi murid disekolah itu. Banyak dari para murid yang senang dan berminat untuk berteman dengannya terkecuali De’Vhielsis.
            Hari ini, bu Tia tidak dapat mengajar. Beliau hanya memberikan tugas kepada para murid melalui Mikha. Oleh sebab itu, Mikha bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan oleh bu Tia.
Mendengar hal itu, para de’Vhielsispun menjadi marah. Mereka sangat membenci Mikha karena Mikha banyak mengambil perhatian semua murid termaksud para guru. De’Vhielsis sangat meradang dan akhirnya saat itu juga, saat jam pelajaran kosong merekapun berdiri dan membentak Mikha hingga semua anak satu kelas memperhatikan mereka.
Satu kelaspun menjadi sangat ricuh. Semua murid melawan para de’Vhielsis termaksud Abel.
 “Abel, lo masih mau jadi temen kitakan? Makanya, GAK USAH LO NASIHATIN GUE KAYA GITU!!!” Ujar Mella kearah Abel.
            Abelpun terdiam merunduk.
Semua kejadian ini membuat Mella menjadi sangat marah. Mella mengancam semua orang yang melawannya akan segera dengan cepat ia keluarkan. Semuanya hanya terdiam dan merunduk.
“udah sana lo pada balik ke tempat masing-masing!” ujar Dyra
            Merekapun kembali ketempat masing-masing. Waktu cepat berlalu hingga bel pulangpun berbunyi (kring… kring…)
            Ketika mereka baru saja ingin keluar menuju gerbang sekolah. Tiba-tiba mereka merasakan sebuah getaran. Getaran itu mula-mula pelan pelan dan tiba-tiba berubah menjadi semakin kencang dan kencang dan membuat bumipun terguncah. Semua murid pada guru staff dan semua orang lainnya berteriak-teriak “Gempa!!!! Gempa!!!!”. Semua sangat panik. Mereka tidak sempat memikirkan apapun. Yang ada difikiran mereka hanya bagaimana cara mereka lari menyelamatkan diri dari guncangan ini. Tangisan anak-anak dan teriakan Asma Allah terdengar diseluruh penujuru kota.

Semakin lama guncanganpun semakin besar. Semakin lama semakinkeras pula teriakan serta tangisan yang terdengar. Dan beberapa saatkemudian akhirnya guncangan tersebut berhenti. Mella, Dira, dan Siscapun menangis ketakutan. Mereka bertiga berpelukkan dan menangis bersamaan. Semua bangunan disekitar mereka runtuh. Mereka bertiga melihat sekitarnya yang tidak penuhi oleh orang-orang yang terluka. Akhirnya merekapun memutuskan untuk melihat keadaan dirumah mereka masing-masing dan disinilah mereka berpisah.
Berhari-hari sudah kejadian gempa itu terjadi mereka bertiga belum saling mengabarkan tentang kondisi masing-masing.
            Disisi lain,disebuah tenda pengungsian. Terlihat seorang gadis cantik yang sedang membantu memberi perawatan kapada para korban yang ada. Gadis itu ialah Mikha. Mikha dan keluarganya selamat. Ayahnya adalah seorang dokter. Karena banyak korban yang terluka,akhirnya Mikha memutuskan untuk membantu ayahnya.
            Saat ia sedang bertugas merawat para korban, disisi pojok tenda, ia melihat seorang gadis yang duduk terdiam sendiri dan iapun berniat untuk menghampiri gadis itu.
 “hai, kamu kenapa?”. Ramah iba Mikha kepada gadis itu.
            Mendengar ada seseorang yang menyapa, gadis itupun menoleh dan….
 “Mella, ko lo bisa disini? Lo kenapa? Lo luka? Atau keluarga lo ada yang dirawat ditenda ini?”. Ujar Mikha dengan perasaan sangat taktega.
 “gue gak apa apa ko. gue sedih kha, gue nyari bokap gue kemana-kemana dari satu tenda ke tendalain tuh gak ketemu. Sedangkan lo tau sendirikan Kha, Cuma bokap yang gue punya”. Ujar Mella sambil terisak-isak dan menangis.
 “Yaampun Mell sabar ya, semua pasti ada hikmahnya ko”. ucap Mikha sambil memeluk Mella
“maafin gue ya Kha tentang semua kelakuan gue dan temen-temen gue ke lo dan yang lainnya. Mungkin ini teguran buat gue, buat gak jadi manusia yang sombong dan penuh dengan kedengkian”. Mela yang Membalas pelukan Mikha dan kemudian menangis.
“iya gak apaapa kok mell. Gue udah maafinlo dan temen-temen lo kok. Dan gue juga yakin semuanya juga mau ko maafin lo”.
            Merekapun kemudian berpelukan. Tragedi Gempa Bumi yang telah melanda didaerah mereka membuat Mella kehilangan satu-satunya orang tua Mella. Dan akhirnya sekarang Mella menjadi anak yatim-piatu. Dan kejadian ini pula telah membuat Mella sadar dan berubah menjadi yang lebih baik dan sangat bertolah belakang dengan sifatnya terdahulu.
"TAMAT"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar